Dalam ceramahnya Gus Baha mengatakan tetap menghadiri undangan diacara penikahan, karena berkaitan dengan kebenaran. Selama ini mungkin kita sudah banyak yang mengetahui, bahwa menghadiri undangan pernikahan adalah keharusan memenuhi atau datang dalam acara tersebut.
Selama ini sering kita jumpai dalam acara pernikahan ada hiburan entah itu dangdut, keoprak, band dan lain sebagainya. Untuk sebagian orang ketika melihat acara dangdut ataupun ketoprak, yang biasanya untuk kostum atau pakaiannya yang tidak menurut aurat, pasti dibenak orang tersebut ingat akan dosa. Berkaitan dengan hal tersebut Gus Baha membagi pengalamannya diundang dalam acara pernikahan, namun disitu ada hiburan ketoprak dan tetap menghadirinya.
“Gus nanti ada ketoprak di rumah saya, tapi jenengan gak usah lihat itu. Tapi jam 9 ngakadkan anak saya” ujar Gus Baha.
“Gus nanti ada ketoprak di rumah saya, tapi anda tidak usah lihat itu. Tapi jam 9 mengakadkan anak saya,” sambungnya.
Setelah Gus Baha tiba di kediaman orang yang mengundangnya, ternyata sudah ada biduan yang akan tampil di acara tersebut. Gus Baha pun mengungkapkan alasan tetap datang meskipun disitu ada hiburan ketoprak.
“Kenapa saya datang? Fikiran saya tadi, kalau kiai tidak menyaksikan akan nikah, nanti mereka bisa bikin cara akan dengan mereka sendiri,” kata Gus Baha.
Kedatangan Gus Baha diacara tersebut menjadikan keharusan agar akan nikah dilakukan secara aturan agama dan tidak ngawur sesuai kemauannya sendiri-sendiri.
Apa yang dilakukan Gus Baha juga dilakukan oleh Kiai atau guru-guru pada zaman dahulu tetap datang di acara walimatul Ursy disaat tidak ada udzur atau halangan.
“Sehingga ta’bir-ta’bir yang di Fiqih misalnya Walimatul Ursy itu kalau ada ikhtilaatul rijal wan nisaa, haram hadir, itu nggak pernah dilakukan oleh guru-guru kita,” ujar Gus Baha.
Gus Baha pun mengatakan bahwa para kiai dan para guru terdahulu juga menghadiri walimatul 'ursy apabila sedang tidak dalam keadaan 'udzur (halangan).
Salah satu guru Gus Baha, yakni Mbah Maimun Zubair juga datang ketika diundang dalam acara walimatul ‘ursy . Begitu Gus Baha memberikan contoh apa yang dilakukan Mbah Maimun yang merupakan sebagai guru panutannya.
“Setahu saya Mbah Moen, bapak saya, guru-guru kita, meskipun ada istilah ikhtilaatul rijal wan nisaa, mereka kalau ada walimatul ursy asal gak ada udzur itu datang,” ujar Gus Baha.
Dengan demikian Gus Baha mengajarkan bahwa kebenaran harus tetap dijalankan meskipun ada kebathilan didalamnya.
“ Karena Laa Yutrokul Haqqu Li Ajlil Bathil ( Kebenaran ndak boleh ditinggalkan hanya karena kebathilan,” kata Gus Baha.

0 comments:
Post a Comment